Proses Pengambilan Keputusan dan Teori Keputusan



Materi Pembelajaran · Pertemuan 2

Proses Pengambilan Keputusan dan Teori Keputusan

Mata Kuliah Teori Pengambilan Keputusan — Program Studi S1 Manajemen

Pertemuan
2 dari 16
Tingkat
Dasar
Estimasi Waktu Baca
±25–30 menit
Metode
Lecture & Tanya Jawab

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  • Menjelaskan tahapan-tahapan dalam proses pengambilan keputusan manajerial secara berurutan.
  • Membedakan teori keputusan normatif dan teori keputusan deskriptif.
  • Menjelaskan asumsi dasar model keputusan klasik (rational choice) sebagai pengantar menuju pembahasan keterbatasan rasionalitas pada pertemuan berikutnya.

1.Tahapan Proses Pengambilan Keputusan Manajerial

Pada pertemuan sebelumnya kita mempelajari bahwa pengambilan keputusan adalah sebuah proses, bukan peristiwa sesaat. Bagian ini menguraikan proses tersebut secara bertahap, mengikuti model delapan langkah yang umum digunakan dalam literatur manajemen (Robbins & Coulter).

  1. Identifikasi Masalah Menyadari adanya kesenjangan antara kondisi aktual dan kondisi yang diinginkan, sehingga keputusan perlu diambil.
  2. Identifikasi Kriteria Keputusan Menentukan faktor-faktor apa saja yang relevan dan akan digunakan untuk menilai alternatif (biaya, waktu, kualitas, risiko, dan sebagainya).
  3. Pembobotan Kriteria Memberi bobot/prioritas pada setiap kriteria, karena tidak semua kriteria memiliki tingkat kepentingan yang sama bagi pengambil keputusan.
  4. Pengembangan Alternatif Menyusun daftar kemungkinan tindakan yang dapat menyelesaikan masalah, sebanyak dan sekreatif mungkin sesuai sumber daya yang tersedia.
  5. Analisis Alternatif Mengevaluasi kekuatan dan kelemahan tiap alternatif berdasarkan kriteria dan bobot yang telah ditetapkan pada langkah sebelumnya.
  6. Pemilihan Alternatif Memilih alternatif dengan nilai/skor terbaik hasil analisis — inilah titik di mana "keputusan" secara formal ditetapkan.
  7. Implementasi Alternatif Melaksanakan alternatif yang telah dipilih, termasuk mengomunikasikannya kepada pihak-pihak yang terlibat dan memastikan komitmen pelaksanaan.
  8. Evaluasi Efektivitas Keputusan Menilai apakah keputusan yang diimplementasikan berhasil menyelesaikan masalah sesuai tujuan; jika belum, proses dapat kembali ke langkah-langkah sebelumnya.
Ilustrasi Melanjutkan kasus kedai kopi pada Pertemuan 1: setelah menyadari penurunan penjualan siang hari (langkah 1), pemilik menetapkan kriteria seperti biaya implementasi dan potensi kenaikan omzet (langkah 2), lalu memberi bobot lebih besar pada potensi kenaikan omzet (langkah 3). Ia menyusun tiga alternatif (langkah 4), menganalisis masing-masing (langkah 5), memilih menambah menu makan siang (langkah 6), menjalankannya selama satu bulan (langkah 7), lalu mengevaluasi apakah omzet siang benar-benar naik sesuai target (langkah 8).

Perlu digarisbawahi bahwa kedelapan tahapan ini bersifat siklikal, bukan sekali jalan. Hasil evaluasi pada langkah terakhir seringkali memunculkan masalah baru atau menyempurnakan pemahaman atas masalah awal, sehingga proses dapat berulang kembali dari langkah pertama.

2.Teori Keputusan Normatif vs Deskriptif

Selain memahami tahapan prosesnya, penting juga untuk memahami dua pendekatan besar dalam mempelajari pengambilan keputusan: pendekatan normatif dan pendekatan deskriptif.

a. Teori Keputusan Normatif (Normative Decision Theory)

Teori normatif berupaya menjawab pertanyaan: "Bagaimana seharusnya keputusan yang ideal diambil?" Pendekatan ini bersifat preskriptif — ia menyusun kaidah dan prosedur logis yang, jika diikuti secara konsisten, akan menghasilkan keputusan yang optimal. Teori normatif umumnya berasumsi bahwa pengambil keputusan memiliki informasi yang lengkap, preferensi yang jelas dan konsisten, serta kemampuan pengolahan informasi yang tidak terbatas.

b. Teori Keputusan Deskriptif (Descriptive Decision Theory)

Teori deskriptif berupaya menjawab pertanyaan yang berbeda: "Bagaimana keputusan senyatanya diambil oleh manusia dalam praktik?" Pendekatan ini bersifat mengamati dan menjelaskan perilaku nyata pengambil keputusan — termasuk mengapa manusia sering menyimpang dari model ideal karena keterbatasan waktu, informasi, kemampuan kognitif, maupun pengaruh emosi dan bias.

AspekTeori NormatifTeori Deskriptif
FokusBagaimana keputusan seharusnya diambilBagaimana keputusan senyatanya diambil
SifatPreskriptif (memberi resep/aturan ideal)Deskriptif (mengamati & menjelaskan perilaku nyata)
AsumsiInformasi lengkap, preferensi konsisten, rasionalitas penuhInformasi terbatas, preferensi dapat berubah, rasionalitas terbatas
Contoh PendekatanModel rational choice, expected utility theoryBounded rationality, teori bias dan heuristik

Kedua pendekatan ini saling melengkapi, bukan saling meniadakan: teori normatif memberi tolok ukur ideal tentang seperti apa keputusan yang "baik secara logis", sementara teori deskriptif membantu kita memahami mengapa manusia nyatanya sering tidak mencapai keputusan ideal tersebut. Pemahaman ini menjadi jembatan menuju pembahasan bounded rationality pada Pertemuan 3.

3.Pengantar Model Keputusan Klasik (Rational Choice)

Model keputusan klasik — sering disebut juga rational choice model — adalah representasi paling murni dari pendekatan normatif yang telah dibahas sebelumnya. Model ini menjadi titik tolak (starting point) hampir seluruh teori pengambilan keputusan modern.

Model klasik ini dibangun di atas beberapa asumsi ideal tentang pengambil keputusan:

  • Pengambil keputusan memiliki tujuan yang jelas dan mengetahui secara pasti apa yang ingin dicapai.
  • Seluruh alternatif yang relevan dapat diidentifikasi secara lengkap.
  • Pengambil keputusan memiliki preferensi yang jelas dan konsisten atas setiap kriteria yang digunakan.
  • Preferensi tersebut bersifat stabil dari waktu ke waktu selama proses pengambilan keputusan berlangsung.
  • Tidak ada batasan waktu maupun biaya dalam mengumpulkan informasi dan menganalisis seluruh alternatif.
  • Pilihan akhir yang diambil adalah pilihan yang memaksimalkan hasil (maximizing choice) — yaitu alternatif dengan nilai tertinggi di antara seluruh alternatif yang ada.
Ilustrasi Bayangkan seorang manajer keuangan yang, menurut model klasik, mampu mengidentifikasi seluruh kemungkinan instrumen investasi yang ada di pasar, mengetahui secara pasti tingkat risiko dan imbal hasil masing-masing, memiliki preferensi risiko yang konsisten, serta memiliki waktu tak terbatas untuk menganalisis semuanya sebelum memilih instrumen dengan nilai ekspektasi tertinggi. Dalam praktiknya, kondisi ideal semacam ini hampir mustahil terjadi.

Justru pada titik inilah letak nilai penting model klasik: ia berfungsi sebagai kerangka pembanding (benchmark) untuk menilai seberapa jauh keputusan yang diambil manusia dalam kenyataan menyimpang dari kondisi ideal tersebut. Herbert Simon — yang akan kita pelajari secara mendalam pada Pertemuan 3 — mengkritisi asumsi-asumsi di atas dan memperkenalkan konsep bounded rationality untuk menjelaskan bagaimana manusia sesungguhnya mengambil keputusan dengan segala keterbatasannya.

Rangkuman

  • Proses pengambilan keputusan manajerial terdiri atas delapan tahapan berurutan dan siklikal: identifikasi masalah, identifikasi kriteria, pembobotan kriteria, pengembangan alternatif, analisis alternatif, pemilihan alternatif, implementasi, dan evaluasi.
  • Teori normatif menjelaskan bagaimana keputusan seharusnya diambil secara ideal; teori deskriptif menjelaskan bagaimana keputusan senyatanya diambil oleh manusia.
  • Model keputusan klasik (rational choice) merupakan representasi murni pendekatan normatif, dengan asumsi informasi lengkap, preferensi konsisten, dan pilihan yang memaksimalkan hasil.
  • Kesenjangan antara model klasik yang ideal dan perilaku pengambilan keputusan yang nyata menjadi dasar bagi teori bounded rationality yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.

Pertanyaan Diskusi & Latihan

  1. Ambil satu contoh keputusan organisasi yang Anda ketahui, lalu petakan keputusan tersebut ke dalam delapan tahapan proses pengambilan keputusan.
  2. Menurut Anda, pada tahapan mana dalam proses delapan langkah tersebut manusia paling rentan melakukan kesalahan atau bias? Jelaskan alasannya.
  3. Berikan satu contoh situasi di mana model keputusan klasik (rational choice) sulit diterapkan sepenuhnya dalam dunia nyata, dan jelaskan asumsi mana yang paling sulit dipenuhi.
  4. Jelaskan dengan kata-kata Anda sendiri mengapa teori normatif dan teori deskriptif dikatakan saling melengkapi, bukan saling bertentangan.

Referensi

  • Daft, R. L. (edisi terbaru). Management — bab The Decision-Making Process. Cengage Learning.
  • Robbins, S. P., & Coulter, M. (edisi terbaru). Management — bab The Decision-Making Process. Pearson.

Materi ini merupakan rangkuman dan penjelasan penulis berdasarkan kedua referensi di atas; nomor edisi dan halaman agar diverifikasi ulang oleh dosen pengampu sesuai edisi yang digunakan.

Komentar

POPULER

Proses dan Organisasi Penganggaran

Silabus Mata Kuliah Teori Pengambilan Keputusan

Konsep Dasar dan Peran Keputusan dalam Manajemen

Pertemuan 2 — Cloud Computing untuk Akuntansi

Konsep Dasar Pemasaran Digital dan Perbedaannya dengan Pemasaran Tradisional