Anggaran Produksi
Anggaran Produksi
Mata Kuliah Penganggaran Perusahaan — Program Studi S1 Manajemen
- Pertemuan
- 4 dari 16
- Tingkat
- Menengah
- Sub-CPMK
- 2.2
- Metode
- Penjelasan + Tugas Spreadsheet
1.Kebijakan Persediaan Barang Jadi (Awal/Akhir)
Setelah anggaran penjualan disusun pada pertemuan sebelumnya, langkah berikutnya dalam siklus penganggaran operasional adalah menyusun anggaran produksi, yaitu rencana jumlah unit yang harus diproduksi perusahaan pada setiap periode agar target penjualan dapat terpenuhi. Salah satu unsur penting dalam penyusunan anggaran produksi adalah kebijakan persediaan barang jadi.
Pada perusahaan manufaktur pada umumnya, persediaan barang jadi berfungsi sebagai penyangga (buffer) terhadap fluktuasi permintaan, sehingga perusahaan tidak perlu memproduksi persis sebesar angka penjualan pada periode yang sama. Kebijakan persediaan biasanya dinyatakan dalam bentuk target persediaan akhir periode, misalnya sebagai persentase tertentu dari perkiraan penjualan periode berikutnya. Persediaan akhir suatu periode selanjutnya menjadi persediaan awal periode berikutnya, sehingga terdapat kesinambungan antar-periode dalam anggaran produksi.
Catatan penerapan pada CV Kopi Nusantara: karena minuman dan makanan dibuat sesuai pesanan (make-to-order), CV Kopi Nusantara pada dasarnya tidak memiliki persediaan barang jadi dalam pengertian konvensional. Sebagai gantinya, kebijakan persediaan diterapkan pada bahan siap saji (misalnya racikan sirup, susu yang telah ditakar, atau stok es batu) yang disiapkan di awal shift untuk menjaga kelancaran operasional gerai. Prinsip perhitungannya tetap sama seperti persediaan barang jadi pada umumnya.
2.Hubungan Anggaran Produksi dengan Anggaran Penjualan
Anggaran produksi disusun secara langsung berdasarkan angka pada anggaran penjualan yang telah dibuat pada Pertemuan 3, ditambah atau dikurangi dengan kebijakan persediaan barang jadi. Dengan kata lain, anggaran produksi bukan disusun dari data historis produksi, melainkan diturunkan (derived) dari target penjualan yang telah disepakati.
Hubungan ini menegaskan pentingnya keterkaitan antar-anggaran yang telah dibahas sejak Pertemuan 2 (lihat Flowchart Proses Penyusunan Anggaran): apabila anggaran penjualan berubah, baik karena revisi target maupun hasil negosiasi dengan komite anggaran, maka anggaran produksi harus turut disesuaikan agar tetap konsisten. Oleh sebab itu, anggaran produksi sebaiknya disusun pada spreadsheet yang tersambung langsung (melalui rumus/referensi sel) dengan tabel anggaran penjualan, bukan disalin secara manual sebagai angka statis.
3.Perhitungan Unit yang Harus Diproduksi per Periode
Secara umum, unit yang harus diproduksi pada suatu periode dihitung dengan rumus berikut:
Sebagai ilustrasi, berikut adalah contoh perhitungan anggaran produksi untuk satu kategori produk selama empat kuartal, dengan kebijakan persediaan akhir ditetapkan sebesar 10% dari perkiraan penjualan kuartal berikutnya:
| Komponen | Q1 | Q2 | Q3 | Q4 |
|---|---|---|---|---|
| Perkiraan Penjualan (unit) | 10.000 | 11.000 | 10.500 | 13.000 |
| (+) Persediaan Akhir yang Diinginkan | 1.100 | 1.050 | 1.300 | 1.200 |
| (=) Kebutuhan Total | 11.100 | 12.050 | 11.800 | 14.200 |
| (−) Persediaan Awal | 1.000 | 1.100 | 1.050 | 1.300 |
| (=) Unit yang Harus Diproduksi | 10.100 | 10.950 | 10.750 | 12.900 |
Perhatikan bahwa persediaan akhir Kuartal 1 (1.100) menjadi persediaan awal Kuartal 2, dan seterusnya — inilah yang dimaksud dengan kesinambungan antar-periode. Persediaan akhir Kuartal 4 dihitung dari perkiraan penjualan Kuartal 1 tahun berikutnya.
Langkah-langkah di atas berlaku untuk setiap kategori produk secara terpisah, karena pola penjualan dan kebijakan persediaan dapat berbeda antar-kategori. Pada studi kasus CV Kopi Nusantara, angka “unit diproduksi” merepresentasikan jumlah porsi/cangkir yang direncanakan disiapkan pada setiap kuartal, konsisten dengan sifat produksi make-to-order yang telah dijelaskan pada Bagian 1.
Rangkuman
- Kebijakan persediaan barang jadi berfungsi sebagai penyangga terhadap fluktuasi permintaan, umumnya dinyatakan sebagai persentase dari perkiraan penjualan periode berikutnya.
- Anggaran produksi diturunkan langsung dari anggaran penjualan, sehingga keduanya harus tersambung secara konsisten pada spreadsheet.
- Rumus dasar anggaran produksi: Unit Diproduksi = Perkiraan Penjualan + Persediaan Akhir yang Diinginkan − Persediaan Awal.
- Persediaan akhir suatu periode menjadi persediaan awal periode berikutnya, sehingga terdapat kesinambungan antar-periode dalam satu tahun anggaran.
- Pada usaha make-to-order seperti CV Kopi Nusantara, kebijakan persediaan diterapkan pada bahan siap saji, bukan pada barang jadi.
Pertanyaan Refleksi
- Mengapa anggaran produksi dikatakan “diturunkan” dari anggaran penjualan, bukan disusun secara independen?
- Jelaskan mengapa persediaan akhir suatu kuartal akan selalu menjadi persediaan awal kuartal berikutnya.
- Pada usaha make-to-order seperti CV Kopi Nusantara, apa yang menjadi objek kebijakan persediaan jika bukan barang jadi? Berikan contoh konkret.
- Apa risikonya apabila anggaran produksi disusun secara terpisah (disalin manual) dari anggaran penjualan, alih-alih dihubungkan melalui rumus pada spreadsheet?
Referensi
Referensi Teori
- Garrison, Noreen & Brewer — Managerial Accounting — bab Master Budget (Production Budget).
- Nafarin — Penganggaran Perusahaan — bab Anggaran Produksi.
Referensi Tugas
- Template spreadsheet anggaran produksi (disiapkan dosen).

Komentar
Posting Komentar