Anggaran Laba Rugi dan Neraca Proforma

Materi Pembelajaran — Pertemuan 10

Anggaran Laba Rugi dan Neraca Proforma

Mata Kuliah Penganggaran Perusahaan — Program Studi S1 Manajemen

Pertemuan
10 dari 16
Tingkat
Menengah
Sub-CPMK
3.2
Metode
Penjelasan + Tugas Spreadsheet
Tujuan Pembelajaran Mahasiswa mampu menyusun anggaran laba rugi dan neraca proforma berdasarkan anggaran operasional dan kas.

1.Penyusunan Proyeksi Laporan Laba Rugi

Laporan keuangan proforma adalah laporan keuangan yang disusun untuk periode mendatang berdasarkan anggaran, bukan berdasarkan transaksi yang sudah terjadi. Bersama anggaran kas, laporan laba rugi dan neraca proforma membentuk anggaran keuangan yang menunjukkan dampak seluruh rencana operasional terhadap laba dan posisi keuangan perusahaan.

Proyeksi laba rugi disusun dari anggaran-anggaran operasional yang telah dibuat pada pertemuan-pertemuan sebelumnya: penjualan dari anggaran penjualan, harga pokok penjualan dari anggaran bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead produksi, serta biaya operasional dari anggaran biaya operasional. Berbeda dengan anggaran kas, laporan laba rugi disusun secara akrual, sehingga penyusutan (biaya non-kas) dimasukkan sebagai biaya, sedangkan pembelian aset tetap tidak.

Berikut adalah proyeksi laba rugi setahun yang melanjutkan contoh anggaran kas pada Pertemuan 9, dengan asumsi: persediaan bahan baku tidak berubah sehingga bahan baku yang dipakai sama dengan pembelian (Rp441 juta); dari pengeluaran overhead dan operasional tunai Rp291 juta, Rp170 juta merupakan overhead produksi dan Rp121 juta biaya operasional; penyusutan Rp50 juta; bunga diabaikan seperti pada Pertemuan 9; dan tarif pajak 20% yang dibayar pada tahun berikutnya.

Proyeksi Laba Rugi (Rp juta)Setahun
Penjualan1.310,0
    Bahan baku(441,0)
    Tenaga kerja langsung(243,0)
    Overhead produksi (tunai)(170,0)
    Penyusutan(50,0)
Total Harga Pokok Penjualan(904,0)
Laba Kotor406,0
Biaya operasional(121,0)
Laba Operasional285,0
Beban bunga—
Laba Sebelum Pajak285,0
Beban pajak (20%)(57,0)
Laba Bersih228,0

Perlu diperhatikan bahwa harga pokok penjualan dihitung dari bahan baku yang dipakai, bukan yang dibeli. Apabila terdapat perubahan persediaan, jumlah keduanya akan berbeda: bahan baku dipakai = pembelian + persediaan awal − persediaan akhir.

2.Penyusunan Neraca Proforma

Neraca proforma menyajikan posisi keuangan pada akhir periode anggaran, dengan persamaan dasar Aset = Utang + Modal. Setiap pos neraca akhir dihitung dari saldo awal ditambah atau dikurangi perubahan yang terjadi menurut anggaran, sehingga diperlukan neraca awal periode sebagai titik tolak. Sumber setiap pos adalah sebagai berikut:

  • Kas diambil dari saldo kas akhir pada anggaran kas.
  • Piutang usaha berasal dari bagian penjualan yang belum ditagih pada akhir periode (jadwal penerimaan kas).
  • Persediaan berasal dari anggaran produksi dan bahan baku (persediaan akhir yang diinginkan).
  • Aset tetap = nilai buku awal + pembelian aset − penyusutan.
  • Utang usaha berasal dari bagian pembelian yang belum dibayar (jadwal pembayaran kas), sedangkan pinjaman bank diambil dari anggaran kas.
  • Modal pemilik = modal awal + laba bersih − pengambilan pemilik.

Dengan neraca awal berupa kas Rp35 juta, piutang Rp45 juta, persediaan Rp30 juta, aset tetap Rp450 juta, utang usaha Rp38 juta, dan modal pemilik Rp522 juta, neraca proforma akhir tahun adalah sebagai berikut:

Neraca Proforma (Rp juta)Awal TahunAkhir Tahun
Kas35,041,2
Piutang usaha45,057,0
Persediaan bahan baku30,030,0
Aset tetap (nilai buku)450,0780,0
Total Aset560,0908,2
Utang usaha38,051,2
Pinjaman bank—50,0
Utang pajak—57,0
Modal pemilik522,0750,0
Total Utang dan Modal560,0908,2

Piutang akhir = 15% × Rp380 juta; utang usaha akhir = 40% × Rp128 juta; pinjaman bank = Rp150 juta − Rp100 juta; aset tetap = 450 + 380 − 50; modal = 522 + 228.

3.Keterkaitan Antar-Anggaran dalam Penyusunan Laporan Proforma

Laporan proforma hanya dapat disusun dengan benar apabila seluruh anggaran sebelumnya saling terhubung. Perubahan pada satu anggaran akan merambat ke laporan keuangan, misalnya kenaikan target penjualan akan meningkatkan penjualan, piutang, bahan baku, dan seluruh biaya yang terkait. Alur penyusunannya dapat diringkas sebagai berikut:

Infografis: Alur Penyusunan Laporan Keuangan Proforma

Dari anggaran operasional dan kas hingga neraca yang seimbang, dalam enam langkah.

1
Susun Laba Rugi dari Anggaran Operasional

Penjualan dikurangi harga pokok penjualan dan biaya operasional.

2
Hitung Pajak dan Laba Bersih

Laba sebelum pajak dikurangi beban pajak.

3
Ambil Saldo Kas dan Pinjaman dari Anggaran Kas

Saldo kas akhir dan saldo pinjaman bank berasal dari Pertemuan 9.

4
Hitung Piutang, Persediaan, dan Utang Usaha

Dari jadwal penagihan, jadwal pembayaran, dan kebijakan persediaan.

5
Perbarui Aset Tetap dan Modal

Aset tetap awal + pembelian − penyusutan; modal awal + laba bersih − pengambilan.

6
Periksa: Aset = Utang + Modal

Apabila tidak seimbang, telusuri kembali keterkaitan antar-anggaran.

Keseimbangan neraca berfungsi sebagai alat pemeriksaan: jika total aset tidak sama dengan total utang dan modal, hampir pasti ada anggaran yang belum terhubung atau salah hitung. Pada contoh di atas, total aset dan total utang dan modal sama-sama Rp908,2 juta.

Hubungan antara laba dan kas juga dapat ditelusuri. Laba bersih setahun adalah Rp228 juta, tetapi kas hanya naik Rp6,2 juta. Rekonsiliasi berikut menjelaskan selisihnya:

Rekonsiliasi Laba Bersih dengan Kenaikan Kas (Rp juta)Jumlah
Laba bersih228,0
(+) Penyusutan (non-kas)50,0
(−) Kenaikan piutang usaha(12,0)
(+) Kenaikan utang usaha13,2
(+) Kenaikan utang pajak (belum dibayar)57,0
(−) Pembelian aset tetap(380,0)
(+) Pinjaman bersih (150,0 − 100,0)50,0
(=) Kenaikan kas (41,2 − 35,0)6,2

Sebagian besar laba tidak menjadi kas karena digunakan untuk membeli aset tetap (Rp380 juta), sementara pajak yang masih terutang (Rp57 juta) belum membebani kas. Hal inilah yang menjelaskan mengapa perusahaan yang labanya besar dapat tetap memerlukan pinjaman, sebagaimana dibahas pada Pertemuan 9. Seluruh hasil ini akan diintegrasikan menjadi master budget pada Pertemuan 11.

Rangkuman

  • Laporan proforma disusun untuk periode mendatang berdasarkan anggaran; bersama anggaran kas, keduanya membentuk anggaran keuangan.
  • Proyeksi laba rugi memakai konsep akrual: penyusutan dimasukkan sebagai biaya, sedangkan pembelian aset tetap tidak; harga pokok penjualan dihitung dari bahan baku yang dipakai, bukan yang dibeli.
  • Setiap pos neraca proforma diturunkan dari saldo awal dan anggaran terkait: kas dari anggaran kas, piutang dan utang dari jadwal penagihan dan pembayaran, aset tetap dan modal dari perhitungan roll-forward.
  • Keseimbangan neraca (Aset = Utang + Modal) menjadi pemeriksaan bahwa seluruh anggaran telah terhubung dengan benar.
  • Selisih antara laba bersih dan kenaikan kas dijelaskan oleh penyusutan, perubahan piutang dan utang, pembelian aset, dan pembiayaan.

Pertanyaan Refleksi

  1. Mengapa laba bersih Rp228 juta pada contoh di atas tidak sama dengan kenaikan kas? Sebutkan tiga penyebab utamanya.
  2. Jika persediaan bahan baku akhir tahun naik Rp10 juta dibanding awal tahun, bagaimana pengaruhnya terhadap bahan baku yang dipakai dan harga pokok penjualan?
  3. Jika penyusutan tahunan naik menjadi Rp60 juta (dengan asumsi lain tetap), bagaimana dampaknya terhadap laba bersih, nilai buku aset tetap, dan saldo kas?
  4. Apa yang sebaiknya Anda lakukan apabila neraca proforma yang Anda susun tidak seimbang?

Referensi

Referensi Teori

  • Horngren, Datar & Rajan — Cost Accounting: A Managerial Emphasis — bab Master Budget and Responsibility Accounting.
  • Rudianto — Penganggaran — bab Anggaran Laba Rugi dan Neraca.

Referensi Tugas

  • Template spreadsheet laporan laba rugi dan neraca proforma (disiapkan dosen).

Komentar

POPULER

Silabus Mata Kuliah Pengantar Pemasaran Digital

Silabus Mata Kuliah Teori Pengambilan Keputusan

Proses Pengambilan Keputusan dan Teori Keputusan

Perlindungan Investor, Transparansi, dan Governance Disclosure

Rational Decision Making dan Bounded Rationality