Anggaran Kas
Anggaran Kas
Mata Kuliah Penganggaran Perusahaan — Program Studi S1 Manajemen
- Pertemuan
- 9 dari 16
- Tingkat
- Menengah
- Metode
- Penjelasan + Tugas Spreadsheet
1.Pola Penerimaan Kas (Tunai dan Kredit)
Pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, seluruh anggaran operasional disusun berdasarkan konsep akrual: penjualan dicatat ketika terjadi, dan biaya dicatat ketika timbul, terlepas dari kapan uangnya diterima atau dibayarkan. Anggaran kas (cash budget) menerjemahkan seluruh anggaran tersebut ke dalam arus kas yang sesungguhnya, yaitu kapan kas masuk dan kapan kas keluar. Ini penting karena perusahaan yang labanya besar pun dapat kesulitan membayar kewajiban apabila kas yang tersedia tidak mencukupi pada saat jatuh tempo.
Sumber penerimaan kas yang utama adalah penerimaan dari penjualan. Pada CV Kopi Nusantara, penjualan tunai dan QRIS diterima pada hari yang sama, sedangkan penjualan melalui platform pesan-antar baru dicairkan setelah proses settlement. Pada anggaran kuartalan, jeda ini diperlakukan sebagai pola penagihan: sebagian penjualan diterima pada kuartal yang sama dan sebagian pada kuartal berikutnya. Sebagai ilustrasi, anggap 85% penjualan diterima pada kuartal yang sama dan 15% pada kuartal berikutnya, dengan piutang awal Kuartal 1 sebesar Rp45 juta:
| Jadwal Penerimaan (Rp juta) | Q1 | Q2 | Q3 | Q4 |
|---|---|---|---|---|
| Penjualan (Rp juta) | 300,0 | 320,0 | 310,0 | 380,0 |
| Penerimaan dari penjualan periode berjalan (85%) | 255,0 | 272,0 | 263,5 | 323,0 |
| Penerimaan dari penjualan periode lalu (15%) | 45,0 | 45,0 | 48,0 | 46,5 |
| Total Penerimaan Kas | 300,0 | 317,0 | 311,5 | 369,5 |
Selain penjualan, penerimaan kas dapat berasal dari sumber lain, seperti pinjaman bank, setoran tambahan modal, atau penjualan aset tetap. Penerimaan dari sumber ini hanya dimasukkan apabila memang direncanakan.
2.Pola Pengeluaran Kas
Pengeluaran kas bersumber dari anggaran-anggaran operasional yang telah disusun, dengan penyesuaian waktu pembayarannya:
- Pembelian bahan baku (Pertemuan 5) dibayar sesuai termin dengan pemasok; sebagian tunai pada kuartal pembelian dan sebagian pada kuartal berikutnya sebagai pelunasan utang usaha.
- Tenaga kerja langsung (Pertemuan 6) umumnya dibayar pada periode yang sama dengan timbulnya biaya.
- Overhead dan biaya operasional (Pertemuan 7) dimasukkan sebesar jumlah yang dibayar tunai. Biaya penyusutan tidak dimasukkan karena merupakan biaya non-kas.
- Pengeluaran lain, seperti pembelian aset tetap, pembayaran pajak, angsuran dan bunga pinjaman, serta pengambilan pemilik usaha, dimasukkan sesuai rencana waktunya.
Sebagai ilustrasi pembayaran bahan baku, anggap 60% pembelian dibayar pada kuartal yang sama dan 40% pada kuartal berikutnya, dengan utang usaha awal Kuartal 1 sebesar Rp38 juta:
| Jadwal Pembayaran (Rp juta) | Q1 | Q2 | Q3 | Q4 |
|---|---|---|---|---|
| Pembelian bahan baku (Rp juta) | 100,0 | 108,0 | 105,0 | 128,0 |
| Pembayaran pembelian periode berjalan (60%) | 60,0 | 64,8 | 63,0 | 76,8 |
| Pembayaran utang periode lalu (40%) | 38,0 | 40,0 | 43,2 | 42,0 |
| Total Pembayaran Bahan Baku | 98,0 | 104,8 | 106,2 | 118,8 |
3.Identifikasi Kebutuhan Pembiayaan dan Surplus Kas
Anggaran kas menggabungkan jadwal penerimaan dan pengeluaran, kemudian membandingkan saldo kas dengan saldo kas minimum, yaitu kas yang harus selalu tersedia untuk kebutuhan operasional sehari-hari. Apabila saldo sebelum pembiayaan berada di bawah saldo minimum, perusahaan memerlukan pembiayaan tambahan (misalnya pinjaman); apabila berada jauh di atasnya, terdapat surplus kas yang dapat digunakan untuk melunasi pinjaman atau diinvestasikan.
Dari saldo kas awal hingga saldo kas akhir yang menjadi saldo awal periode berikutnya.
Sama dengan saldo kas akhir periode sebelumnya.
Dari jadwal penagihan penjualan dan sumber penerimaan lain.
Bahan baku, tenaga kerja, overhead dan operasional tunai, aset tetap, dan lainnya.
Dibandingkan dengan saldo kas minimum untuk mengetahui kekurangan atau kelebihan.
Pinjaman bila kas kurang dari minimum; pelunasan atau investasi bila kas berlebih.
Menjadi saldo kas awal periode berikutnya.
Berikut adalah anggaran kas lengkap untuk contoh di atas, dengan saldo kas awal Rp35 juta, saldo kas minimum Rp30 juta, pembelian aset tetap (peralatan gerai baru) sebesar Rp380 juta pada Kuartal 3, dan pinjaman/pelunasan dalam kelipatan Rp10 juta (bunga diabaikan untuk penyederhanaan):
| Anggaran Kas (Rp juta) | Q1 | Q2 | Q3 | Q4 |
|---|---|---|---|---|
| Saldo Kas Awal | 35,0 | 112,0 | 192,2 | 38,5 |
| (+) Penerimaan Kas | 300,0 | 317,0 | 311,5 | 369,5 |
| (=) Kas Tersedia | 335,0 | 429,0 | 503,7 | 408,0 |
| (−) Pembayaran Bahan Baku | 98,0 | 104,8 | 106,2 | 118,8 |
| (−) Tenaga Kerja Langsung | 55,0 | 60,0 | 58,0 | 70,0 |
| (−) Overhead dan Operasional (tunai) | 70,0 | 72,0 | 71,0 | 78,0 |
| (−) Pembelian Aset Tetap | — | — | 380,0 | — |
| (=) Total Pengeluaran Kas | 223,0 | 236,8 | 615,2 | 266,8 |
| Kelebihan/(Kekurangan) Kas Sebelum Pembiayaan | 112,0 | 192,2 | (111,5) | 141,2 |
| Pinjaman/(Pelunasan) | — | — | 150,0 | (100,0) |
| Saldo Kas Akhir | 112,0 | 192,2 | 38,5 | 41,2 |
Hasil tersebut dapat dibaca sebagai berikut. Pada Kuartal 1 dan 2 terdapat surplus kas yang besar. Pada Kuartal 3, pembelian aset tetap menyebabkan kekurangan kas sebesar Rp111,5 juta sehingga saldo akan berada jauh di bawah minimum; untuk mempertahankan saldo minimum Rp30 juta, perusahaan perlu meminjam Rp150 juta (kelipatan Rp10 juta yang cukup untuk menutup kekurangan dan saldo minimum). Pada Kuartal 4, surplus kas digunakan untuk melunasi sebagian pinjaman sebesar Rp100 juta sambil tetap menjaga saldo di atas minimum.
Informasi ini memungkinkan manajemen merencanakan pembiayaan jauh sebelum kekurangan kas terjadi, misalnya dengan mengajukan pinjaman lebih awal, menjadwalkan ulang pembelian aset, atau menegosiasikan termin pembayaran dengan pemasok. Anggaran kas ini juga akan menjadi masukan bagi anggaran laba rugi dan neraca proforma pada pertemuan berikutnya.
Rangkuman
- Anggaran kas menerjemahkan anggaran akrual menjadi arus kas nyata: kapan kas masuk dan kapan kas keluar.
- Penerimaan kas dari penjualan mengikuti pola penagihan (sebagian pada periode yang sama, sebagian pada periode berikutnya), ditambah penerimaan lain yang direncanakan.
- Pengeluaran kas mengikuti jadwal pembayaran anggaran operasional; biaya non-kas seperti penyusutan tidak dimasukkan.
- Struktur anggaran kas: saldo awal + penerimaan − pengeluaran = saldo sebelum pembiayaan, lalu disesuaikan dengan pinjaman atau pelunasan agar tidak di bawah saldo minimum.
- Anggaran kas membantu manajemen mengantisipasi kekurangan kas dan memanfaatkan surplus kas secara terencana.
Pertanyaan Refleksi
- Mengapa perusahaan yang labanya besar tetap dapat mengalami kesulitan kas? Kaitkan dengan perbedaan penjualan dan penerimaan kas.
- Mengapa biaya penyusutan tidak dimasukkan dalam anggaran kas?
- Apabila pola penagihan berubah menjadi 70% pada kuartal yang sama dan 30% pada kuartal berikutnya, bagaimana dampaknya terhadap penerimaan kas Kuartal 2 pada contoh di atas? Jelaskan arah perubahannya.
- Selain meminjam, sebutkan dua langkah lain yang dapat ditempuh manajemen CV Kopi Nusantara untuk menutup kekurangan kas pada Kuartal 3.
Referensi
Referensi Teori
- Garrison, Noreen & Brewer — Managerial Accounting — bab Master Budget (Cash Budget).
- Nafarin — Penganggaran Perusahaan — bab Anggaran Kas.
Referensi Tugas
- Template spreadsheet anggaran kas (disiapkan dosen).

Komentar
Posting Komentar