Anggaran Bahan Baku
Anggaran Bahan Baku
Mata Kuliah Penganggaran Perusahaan — Program Studi S1 Manajemen
- Pertemuan
- 5 dari 16
- Tingkat
- Menengah
- Metode
- Penjelasan + Tugas Spreadsheet
1.Standar Penggunaan Bahan Baku per Unit Produk
Setelah anggaran produksi disusun pada Pertemuan 4, langkah berikutnya adalah menentukan berapa banyak bahan baku yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana produksi tersebut. Dasar dari perhitungan ini adalah standar penggunaan bahan baku, yaitu jumlah bahan baku yang secara teknis dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk. Pada perusahaan manufaktur, standar ini biasanya didokumentasikan dalam bentuk bill of materials (BOM); pada usaha kuliner seperti CV Kopi Nusantara, standar ini setara dengan resep standar (standard recipe) untuk setiap kategori minuman atau makanan.
Sebagai ilustrasi, resep standar untuk satu cangkir Kopi Susu pada CV Kopi Nusantara dapat ditetapkan sebagai berikut: 18 gram biji kopi dan 60 ml susu per cangkir. Setiap kategori produk memiliki resep standarnya masing-masing, dan dapat menggunakan lebih dari satu jenis bahan baku sekaligus.
Standar penggunaan bahan baku memiliki dua fungsi penting: (1) menjadi dasar perhitungan anggaran kebutuhan bahan baku, dan (2) menjadi tolok ukur pengendalian biaya di kemudian hari — apabila realisasi pemakaian bahan baku menyimpang jauh dari standar, hal ini menjadi sinyal untuk diselidiki lebih lanjut (konsep ini akan dibahas lebih mendalam pada Pertemuan 12 mengenai analisis variance). Oleh karena itu, standar sebaiknya ditetapkan secara resmi oleh pihak yang berwenang (misalnya tim pengembangan produk/head barista) dan didokumentasikan dengan baik.
2.Anggaran Kebutuhan Bahan Baku
Anggaran kebutuhan bahan baku dihitung dengan mengalikan unit yang akan diproduksi (hasil anggaran produksi pada Pertemuan 4) dengan standar penggunaan bahan baku per unit:
| Rumus Kebutuhan Bahan Baku | |
|---|---|
| Kebutuhan Bahan Baku = Unit yang Akan Diproduksi × Standar Penggunaan per Unit |
Perhitungan ini perlu dilakukan untuk setiap jenis bahan baku secara terpisah, karena satu produk dapat menggunakan beberapa jenis bahan baku sekaligus, dan satu jenis bahan baku dapat pula digunakan oleh beberapa kategori produk (misalnya biji kopi digunakan baik oleh Kopi Susu maupun Kopi Hitam). Oleh karena itu, anggaran kebutuhan bahan baku pada praktiknya berbentuk matriks yang menjumlahkan kebutuhan suatu bahan baku dari seluruh kategori produk yang menggunakannya, sebelum diperoleh total kebutuhan bahan baku tersebut secara keseluruhan.
Sebagai ilustrasi, berikut adalah perhitungan kebutuhan biji kopi berdasarkan anggaran produksi Kopi Susu pada Pertemuan 4 (10.100, 10.950, 10.750, dan 12.900 cangkir pada Kuartal 1–4) dan standar 18 gram per cangkir:
| Komponen | Q1 | Q2 | Q3 | Q4 |
|---|---|---|---|---|
| Unit Diproduksi (cangkir) | 10.100 | 10.950 | 10.750 | 12.900 |
| Standar Biji Kopi (gram/cangkir) | 18 | 18 | 18 | 18 |
| Kebutuhan Biji Kopi (kg) | 182 | 197 | 194 | 232 |
Angka kebutuhan dalam kilogram dibulatkan untuk kemudahan penyajian (1 kg = 1.000 gram).
3.Anggaran Pembelian dan Persediaan Bahan Baku
Kebutuhan bahan baku untuk produksi belum tentu sama dengan jumlah yang harus dibeli pada periode tersebut, karena perusahaan juga perlu mempertimbangkan kebijakan persediaan bahan baku — sama seperti logika kebijakan persediaan barang jadi pada Pertemuan 4, namun kini diterapkan pada bahan baku:
| Rumus Pembelian Bahan Baku | |
|---|---|
| Pembelian Bahan Baku = Kebutuhan Bahan Baku + Persediaan Akhir yang Diinginkan − Persediaan Awal |
Dari anggaran produksi hingga anggaran pembelian bahan baku, dalam enam langkah.
Unit yang akan diproduksi, hasil Pertemuan 4.
Mengacu pada resep standar/spesifikasi setiap produk.
Dijumlahkan dari seluruh kategori produk yang menggunakan bahan baku tersebut.
Kebijakan persediaan, misalnya persentase dari kebutuhan periode berikutnya.
Sama dengan persediaan akhir bahan baku pada periode sebelumnya.
Jumlah bahan baku yang harus dibeli pada periode tersebut.
Melanjutkan ilustrasi kebutuhan biji kopi pada Bagian 2, berikut adalah anggaran pembelian biji kopi dengan kebijakan persediaan akhir sebesar 10% dari kebutuhan kuartal berikutnya, dan persediaan awal Kuartal 1 sebesar 18 kg:
| Komponen | Q1 | Q2 | Q3 | Q4 |
|---|---|---|---|---|
| Kebutuhan Bahan Baku (kg) | 182 | 197 | 194 | 232 |
| (+) Persediaan Akhir yang Diinginkan (kg) | 20 | 19 | 23 | 21 |
| (=) Kebutuhan Total (kg) | 202 | 216 | 217 | 253 |
| (−) Persediaan Awal (kg) | 18 | 20 | 19 | 23 |
| (=) Anggaran Pembelian (kg) | 184 | 196 | 198 | 230 |
Setelah jumlah pembelian dalam kilogram diperoleh, nilai pembelian dalam rupiah dihitung dengan mengalikan jumlah pembelian dengan harga beli bahan baku per kilogram dari pemasok.
Beberapa pertimbangan praktis juga perlu diperhatikan dalam menetapkan kebijakan persediaan bahan baku, antara lain lead time pemasok (waktu tunggu sejak pemesanan hingga barang diterima) dan sifat bahan baku itu sendiri. Bahan baku yang mudah rusak (perishable), seperti susu segar, umumnya memerlukan kebijakan persediaan yang lebih ketat — persediaan rendah namun frekuensi pembelian lebih sering — dibandingkan bahan baku yang tahan lama seperti biji kopi kering.
Rangkuman
- Standar penggunaan bahan baku (resep standar) menjadi dasar perhitungan kebutuhan bahan baku sekaligus tolok ukur pengendalian biaya di kemudian hari.
- Anggaran kebutuhan bahan baku = unit yang akan diproduksi × standar penggunaan per unit, dihitung per jenis bahan baku dan dijumlahkan dari seluruh kategori produk yang menggunakannya.
- Anggaran pembelian bahan baku = kebutuhan bahan baku + persediaan akhir yang diinginkan − persediaan awal, mengikuti logika yang sama dengan anggaran produksi pada Pertemuan 4.
- Kebijakan persediaan bahan baku perlu mempertimbangkan lead time pemasok dan sifat bahan baku (tahan lama vs. mudah rusak).
Pertanyaan Refleksi
- Mengapa standar penggunaan bahan baku perlu didokumentasikan secara resmi, bukan hanya mengandalkan kebiasaan masing-masing barista?
- Jelaskan mengapa anggaran kebutuhan bahan baku perlu dihitung per jenis bahan baku, bukan sekaligus untuk seluruh bahan baku.
- Apa perbedaan antara "kebutuhan bahan baku" dan "pembelian bahan baku"? Mengapa keduanya bisa berbeda jumlahnya?
- Mengapa susu segar memerlukan kebijakan persediaan yang berbeda dibandingkan biji kopi kering pada CV Kopi Nusantara?
Referensi
Referensi Teori
- Hansen & Mowen — Managerial Accounting — bab Anggaran Operasional (Direct Materials Budget).
- Nafarin — Penganggaran Perusahaan — bab Anggaran Bahan Baku.
Referensi Tugas
- Template spreadsheet anggaran bahan baku (disiapkan dosen).
Komentar
Posting Komentar